Orang yang berkecimpung di dunia teknologi informasi (TI) memang tak bisa dipungkiri adalah orang-orang pilihan yang punya tingkat intelejensia tinggi. Namun sayangnya, mereka bak hidup di dunianya sendiri.

Maksudnya hidup di dunia sendiri, tak lain karena orang-orang TI punya bahasa teknis yang hanya dimengerti oleh orang TI saja. Bagi masyarakat umum, mungkin tak semua orang bisa memahami.

Masalahnya, kata Chief Sharing Vision Dimitri Mahayana, orang-orang TI ini kerap tak sadar. Saat berinteraksi dengan orang lain di luar lingkup profesinya, mereka masih menggunakan bahasa teknis yang rumit nan kompleks.

“Entah karena budaya atau mungkin ego sektoral, sering kali penggunaan bahasa yang terlalu teknis sulit untuk dipahami oleh pihak lain,” paparnya kepada detikINET di sela sesi acara Sharing Vision ‘IT Estimation’, di Bandung, Sabtu (17/7/2010).

Tak hanya dalam kehidupan sosial sehari-hari, situasi ini juga kerap terjadi saat divisi TI hendak membuat rencana investasi ataupun pengadaan perangkat. Padahal, selain divisi TI, banyak pihak lain yang juga berkepentingan.  Mulai dari pihak internal seperti divisi keuangan, divisi pelayanan, hingga pihak eksternal semacam BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) atau malah KPK (Komisi Pemberantas Korupsi).

Celakanya, lanjut Dimitri, hal ini justru bisa menciptakan blunder. Pasalnya, mengacu pada fakta di lapangan, ada sejumlah kasus korupsi yang bermula dari tidak sejalannya pemahaman antara divisi TI dengan divisi lainnya.

“Seyogyanya, begitu akan melakukan pengadaan, harus dipastikan semua divisi menerima  laporan rencana investasi TI dan paham dengan apa yang dimaksud. Istilahnya, buatlah plain languange, atau pelaporan dengan bahasa populer yang mudah dimengerti semua kalangan,” saran dia.

Tips ini hanya salah satu cara untuk menangkal munculnya mispersepsi di kemudian hari, tentang proses pengadaan barang yang secara natural memang sensitif. Apalagi pengadaan perangkat lunak dan perangkat keras di TI memiliki keunikan yang jauh berbeda.

“Bisa saya pastikan, karakter pengadaan TI itu 100 kali lipat lebih rumit, kompleks, dibandingkan pengadaan barang-barang lainnya. Jadi, sebagai teknisi, kita harus merancang secara detil dan matang sedari awal,” pungkasnya.