Penculikan Widi Vierra”, kata-kata tersebut kerap menjadi pemberitaan di banyak media belakangan waktu ini. Opini masyarakat pun sangat beragam dalam menghadapi berita tersebut dan tidak sedikit yang mengatakan ”Itu salah dia sendiri, koq perempuan pulang malam-malam” atau pendapat lainnya yang serupa.

Tidak heran bila sebagian besar masyarakat berpandangan seperti itu karena adanya skema dan prasangka yang buruk yang berkembang di masyarakat tentang perempuan yang pulang malam. Perempuan yang kerap pulang malam atau bahkan dini hari dinilai sebagai perempuan ”nakal” atau pekerja seks komersial. Pandangan tersebut berkembang mungkin dikarenakan para perempuan pekerja seks komersial tersebut bekerja di malam hari. Namun, bagaimana dengan para perempuan yang memiliki pekerjaan terhormat tetapi mengharuskan mereka untuk pulang malam atau dini hari? Lantas, apakah mereka juga dikatakan sebagai perempuan ”nakal”?Isu tentang perempuan pulang malam bahkan membuat pemerintah daerah Tangerang memberlakukan peraturan daerah yang melarang para perempuan untuk pulang malam. Peraturan Daerah Nomor VIII Tahun 2005 mengatur tentang Larangan Pelacuran, isinya adalah ”Setiap orang yang perilakunya mencurigakan, sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia pelacur, dilarang berada di jalan-jalan umum, lapangan-lapangan, atau di warung kopi”. Perda tersebut tidak terang-terangan melarang perempuan untuk pulang malam, tetapi secara tidak langsung mengarahkan bahwa perempuan yang pulang malam akan dicurigai sebagai pelacur.

Selain pandangan negatif tentang perempuan yang pulang malam, larangan perempuan untuk pulang malam juga disebabkan oleh alasan keselamatan. Perempuan dinilai lebih lemah dibanding laki-laki dan dianggap tidak mampu menghadapi tindak kejahatan. Lantas perempuankah yang salah bila ia menjadi korban tindakan kriminal? Bukankah laki-laki juga dapat menjadi korban? Namun, mengapa laki-laki yang menjadi korban tidak pernah disalahkan atas kelaki-lakiannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bukti bahwa telah terjadi pendiskriminasian terhadap kaum perempuan. Kaum perempuan yang menjadi korban diperlakukan sebagai pihak yang salah karena ke-”perempuan”-annya. Seharusnya masyarakat juga melihat sisi lain bahwa tindakan kriminal yang terjadi pada perempuan bukan karena dia perempuan atau karena perempuan itu lemah, tetapi justru karena adanya kesempatan.

Tindakan kriminal terjadi karena para pelaku yakin bahwa tindakannya tidak terlihat orang lain sehingga kecil kemungkinannya tertangkap. Keadaan malam hari, yaitu situasi yang sepi dan pencahayaan yang kurang, menghadirkan kesempatan bagi pelaku untuk melancarkan kejahatannya. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian dan perlu dibenahi. Pemerintah dan masyarakat seharusnya menyediakan fasilitias yang mendukung keamanan setiap orang di malam hari, terlepas dari dia perempuan atau laki-laki. Contohnya dengan menambahkan penerangan di jalanan yang sepi dan meningkatkan kinerja pengawas keamanan sekitar. Solusi tersebutlah yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat, bukan justru menyalahkan dan melarang para korban perempuan yang pulang di malam hari. Bila diumpamakan dengan jari yang terluka, solusi yang harus dilakukan adalah menyembuhkannya dengan pemberian obat, bukan memotong jari tersebut.

Mungkin banyak orang yang memandang bahwa larangan perempuan untuk keluar malam merupakan solusi yang tepat untuk mengurangi tindak kejahatan pada perempuan. Namun hal tersebut justru dapat menimbulkan masalah lain bagi perempuan. Saat ini, perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan pekerjaan dan tidak sedikit pekerjaan atau profesi yang mengharuskan mereka untuk pergi atau pulang di malam hari. Sebagai contohnya, perempuan yang bekerja sebagai perawat dengan pembagian jam kerja (shift). Saat mereka mendapatkan giliran kerja sore, mereka diharuskan pulang di malam hari, dan yang mendapatkan giliran kerja malam harus pergi di malam hari. Bila pemerintah melarang para perempuan untuk keluar malam, maka sama saja dengan melarang hak perempuan untuk bekerja. Hal tersebut justru menghambat perempuan untuk mengaktualisasikan diri mereka.

Maslow mengemukakan bahwa terdapat lima kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan keberadaan dan kasih sayang, kebutuhan akan keyakinan terhadap diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Berdasarkan teori Maslow tersebut, setiap manusia membutuhkan rasa aman. Larangan perempuan keluar malam atas alasan keselamatan menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat belum mampu menciptakan suasana yang aman itu sendiri. Ketika pandangan masyarakat membentuk skema bahwa tidak aman bagi perempuan untuk keluar malam, justru dapat menimbulkan perasaan cemas pada perempuan itu sendiri. Selain itu, adanya pandangan negatif terhadap perempuan yang keluar malam dapat mempengaruhi self-esteem perempuan. Setiap manusia membutuhkan rasa hormat, status, dan martabat. Oleh karena itu, perempuan juga seharusnya dihormati, bukan diberikan label negatif hanya karena ia pulang malam hari. Perempuan juga membutuhkan kebebasan sehingga ia dapat mengaktualisasikan dirinya. Aktualisasi diri perempuan dapat terhambat karena diberlakukannya larangan perempuan untuk keluar malam.

Pada dasarnya, perda dan pandangan masyarakat tersebut bukanlah suatu hal yang mutlak salah. Pastinya tujuan pemerintah memberlakukan peraturan tersebut adalah baik, tetapi peraturan tersebut tidak tepat untuk dijadikan solusi karena dapat menimbulkan efek buruk bagi perempuan. Pandangan masyarakat juga tidak sepenuhnya salah karena stereotip yang berkembang di masyarakat terbentuk atas dasar pengalaman. Hanya saja, pemerintah dan masyarakat belum melihat permasalahan ini dari sudut pandang yang berbeda. Dalam menilai sesuatu, sebaiknya kita tidak hanya melihatnya dari satu sisi saja sehingga penilaian yang diberikan dapat seobjektif mungkin. Pada akhirnya, setiap orang memiliki hak untuk berpendapat dan mempunyai pandangan sendiri.

Meskipun kebijakan pemerintah sedikit terlihat merugikan perempuan, tetapi paling tidak mereka telah melakukan upaya untuk keamanan perempuan. Lantas, bagaimana dengan perempuan itu sendiri?  Perempuan juga harus memperhatikan keamanan dirinya sendiri. Ketika usaha pemerintah belum maksimal, perempuan sebaiknya mencari caranya sendiri untuk melindungi diri dari tindak kejahatan. Bagi perempuan yang harus keluar rumah di malam hari, sebaiknya menyiapkan beberapa trik untuk menjaga diri sehingga terhindar dari tindakan kriminal. Pada dasarnya terdapat tiga alasan perempuan menjadi korban kejahatan, yaitu:

1.      kurang waspada: untuk itu perempuan harus mengetahui dimana dan apa yang terjadi di sekitarnya,

2.      bahasa tubuh: berjalan menunduk, terlihat letih, lemah. Oleh karena itu, berjalanlah dengan lurus, kepala tegak, dan ayunkan tangan. Tunjukkan bahwa diri kita tidak lemah. Jagalah jarak dengan pejalan kaki lainnya, dan

3.      salah tempat dan salah waktu: sendirian di malam hari, di tempat sepi. Untuk itu berjalan dengan teman saat di lorong atau di lingkungan yang tidak aman .

Bila akhirnya perempuan terlajur harus berhadapan dengan perilaku kejahatan, perempuan dapat melakukan beberapa usaha perlawanan. Jika memungkinkan untuk melakukan perlawanan, gunakan siku untuk memukul rahang pelaku, atau jari untuk menusuk tubuh lawan dibagian lengkungan antara leher dan dada. Perempuan yang menggunakan sepatu hak tinggi juga dapat menyerang dengan menginjak kaki pelaku. Dalam keadaan terdesak adalah hal wajar bila perempuan merasa panik dan takut. Namun, sebaiknya ubah rasa takut tersebut menjadi emosi marah. Gunakan energi marah, seperti berteriak. Teriakan dapat membangkitkan semangat dalam melakukan perlawanan.

Apabila usaha perlawanan tidak dapat dilakukan dan akhirnya perempuan tersebut tetap menjadi korban, maka hal yang perlu dilakukan adalah:

1.      Tenangkan diri. Yakinkan diri bahwa perasaan marah, sedih, takut, dan tidak berdaya merupakan hal yang wajar dan menimbulkan trauma bagi siapapun.

2.      Cari tempat aman. Hubungi teman atau kerabat untuk menemani.

3.      Jika terdapat luka fisik, segera obati di klinik atau rumah sakit terdekat dan simpan bukti pemeriksaannya.

4.      Laporkan kejadian tersebut ke polisi Jika merasa takut, berceritalah pada orang terdekat yang dipercaya.

Sumber:

Feist, J & Feist, G.J (2006). Theories of personality. New York: McGraw Hill.

http://berita.liputan6.com/read/118597/tengah_menunggu_angkutan_lilis_digaruk_petugas diunduh pada Kamis, 21 Juli 2011

http://www.lintasberita.com/Fun/Tips-Trick/Tip_Keamanan_Untuk_Perempuan diunduh pada Rabu, 27 Juli 2011