img
(Foto: thinkstock)

Jakarta, Semua pasangan menikah tentu saja ingin rumah tangganya harmonis dan bahagia. Perceraian adalah hal yang menyakitkan dan mimpi buruk dalam sebuah pernikahan. Penelitian menemukan bahwa perceraian di usia muda (35-41 tahun) berakibat lebih buruk bagi kesehatan daripada perceraian di usia yang lebih tua.

Menurut penelitian yang dilakukan Hui Liu, sosiolog dari Michigan State University, orang yang lebih tua nampaknya memiliki keterampilan yang lebih baik dalam menghadapi stres akibat perceraian.

“Jelas sekali bahwa dukungan sosial dan dukungan keluarga lebih banyak diperlukan bagi orang muda yang bercerai. Dukungan tersebut bisa berupa konseling perceraian untuk membantu pasangan dalam menangani stres, memberikan terapi perkawinan, atau program pencegahan untuk mempertahankan perkawinan,” kata Liu.

Liu menganalisis data dari 1.282 orang peserta survei jangka panjang di AS berjudul Americans Changing Lives. Dia mengukur kesenjangan status kesehatan antara orang yang tetap menikah selama masa penelitian 15 tahun dengan orang yang bercerai. Ia kemudian membandingkannya pada usia tertentu dan pada kelompok kelahiran atau generasi yang berbeda.

Liu menemukan bahwa kesenjangan kesehatan tersebut makin lebar di usia muda. Misalnya, di antara orang yang lahir pada tahun 1950-an, orang yang bercerai pada usia 35-41 tahun melaporkan gangguan kesehatan yang lebih buruk dibanding pasangan sebaya yang tetap mempertahankan pernikahannya. Perbedaan ini lebih sedikit ditemui pada orang yang bercerai dalam rentang usia 44-50 tahun.

“Saya awalnya menduga bahwa perceraian akan kurang menyebabkan stres bagi generasi muda, karena perceraian lebih umum bagi mereka,” kata Liu seperti dilansir ScienceDaily, Rabu (1/2/2012).

Menurut Liu, tekanan untuk mempertahankan pernikahan dan berumah tangga diduga lebih kuat pada generasi yang lebih tua. Dan begitu generasi tua ini memutuskan untuk bercerai, rumah tangga biasanya sudah memasuki tahap yang paling tidak bahagia. Dengan demikian, pasangan ini merasa lega ketika terjadi perceraian.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa transisi dari perkawinan menuju perceraian menyebabkan pasangan mengalami penurunan kesehatan yang lebih cepat daripada pasangan yang tetap menikah.

“Ini menunjukkan bahwa bukan status menikah atau bercerai lah yang mempengaruhi kesehatan, tetapi proses transisi dari pernikahan menuju perceraian lah yang menyebabkan stres dan mempengaruhi kesehatan,” pungkas Liu.
(pah/ir)