img
(Foto: thinkstock)

Pendidikan sangat penting untuk membentuk pola pikir dan pengetahuan anak-anak. Sekolah memungkinkan anak-anak melihat dunia sebagai tempat yang dapat diubah dan mempraktikkan hal-hal positif untuk kehidupannya termasuk masalah penyakit.

Anak-anak ini mempraktikkan perhatian positif yang dipelajari dari gurunya dan menemukan caranya sendiri untuk memastikan mendapat kehidupan yang lebih baik.

Sekolah membuat anak-anak lebih berperan aktif. Hal ini membuat anak-anak kurang merasa sebagai korban dari pengalaman mengerikan yang dialami, juga membuat anak-anak lebih kuat mental di kemudian hari.

“Sangat penting untuk memastikan anak-anak mendapat sekolah formal selama beberapa tahun, bisa tiga, empat atau lima tahun hingga sepuluh tahun. Anak-anak akan belajar mengurus dirinya sendiri dan menerapkan apa yang dipelajari hingga dewasa untuk diterapkan pada diri sendiri dan keluarga,” kata Professor Tania Drabel, PhD dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Copenhagen.

Professor Drabel kemudian menekankan pentingnya sekolah bagi anak-anak yang sedang berada di tengah-tengah krisis sebagai pengungsi. Penelitian membuktikan bahwa anak-anak pengungsi yang pernah bersekolah lebih sehat dan lebih peduli terhadap kesehatannya.

Hasil penelitian dari Universitas Copenhagen menunjukkan bahwa hanya beberapa jam dalam seminggu di sekolah memiliki dampak positif bagi kesehatan anak-anak hingga dewasa. Padahal, anak-anak pengungsi hanya memiliki sedikit akses perawatan kesehatan dan sangat rentan terhadap penyakit.

“Ada hubungan yang jelas antara kesehatan dan pendidikan di antara para pengungsi. Para wanita yang pada masa kanak-kanaknya pernah menjadi pengungsi namun memiliki akses ke sekolah memiliki kesempatan bertahan hidup lebih tinggi, baik bagi dirinya sendiri maupun anak-anaknya.,” kata Professor Drabel.

Profesor Drabel bekerja sebagai ahli kesehatan bagi pengungsi dan kelompok pengasingan di Sudan. Ia memfokuskan penelitiannya pada risiko malaria, salah satu penyakit berbahaya paling utama di Sudan.

Dalam penelitiannya, ia menemukan ada perbedaan besar dalam sikap terhadap malaria pada wanita yang berpendidikan dibandingkan wanita yang belum pernah bersekolah.

Perempuan yang pernah bersekolah lima kali lebih banyak menggunakan jaring nyamuk, 2,5 kali lebih banyak meminum obat anti-malaria, dan tiga kali lebih banyak mencari pengobatan jika mencurigai munculnya penyakit.

Para peneliti memantau wabah malaria pada pengungsi dan orang-orang buangan di Sudan sejak tahun 2008. Peneliti memantau wanita hamil secara khusus karena sangat rentan terhadap malaria. Penyakit malaria diketahui berbahaya bagi calon ibu dan bayinya yang belum lahir.

“Seorang wanita yang pernah bersekolah ketika anak-anak akan mencari pengetahuan tentang perawatan kesehatan serta pencegahan dan pengobatan penyakit. Mereka kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa upaya yang menggunakan sangat sedikit sumber daya ini dapat membuat perubahan besar,” kata Profesor Drabel seperti dilansir ScienceDaily, Senin (6/2/2012).