Para akhwat…muamalah sangat penting dalam kehidupan kita, hubungan dengan suami, keluarga suami, keluarga kita sendiri, dengan tetangga, rekan kerja dan lainnya.

Kenapa penting???Karena Alloh menciptakan kita tidak sendirian di dunia ini..kita butuh orang lain untuk melanjutkan kebutuhan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat.
Terlebih lagi orang lain itu memiliki tujuan yang sama dengan kita yaitu Islam…, dengan begitu mudahlah kita menjalankan rencana-rencana hidup kita ke depannya. Salah satunya menjalin silaturahmi, dengan keluarga, teman yang telah lama tidak bertemu karena dipisahkan oleh tempat yang jauh atau sebab lainnya, dengan silaturahmi akan timbul rasa sayang, rasa cinta, menghargai, memaafkan sehingga timbul keinginan untuk saling mendoakan….selanjutnya…gimana denagn kerabat nonmuslim?Bolehkah kita menjalin silaturahmi dengan mereka???

Wanita muslimah akan senantiasa memperhatikan petunjuk agamanya sehingga dia bisa melihat bahwa islam mengandung kemurahan dan kemanusiaan yang tinggi. Petunjuk ini memerintahkan supaya kita menyambung tali kekeluargaan meski dari kalangan keluarga non muslim. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bin Al ’Ash Radhiyallahu Anhu, dan berkata, ” Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam secara lantang bersabda, ” Sesungguhnya keluarga abu fulan bukan termasuk pendukungku, karena pendukungku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shaleh, tetapi mereka mempunyai tali kekelurgaan yang aku basahi dengan airnya” (Muttafaqun ’alaihi).

Ketika turun firman Allah Azza wa Jalla berikut ini, ” dan berilah peringatan-peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam mengundang orang-orang quraisy, merekapun segera berkumpul, lalu beliau berseru dengan seruan umum dan khusus, ” Wahai anak cucu Abdi Syams, wahai anak cucu Ka’ab bin Lu’ay, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai anak cucu bin Abdi Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai anak cucu hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, Wahai keturunan Abdul Muthalib, selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kalian atas keputusan Alloh, tetapi kalian mempunyai kerabat yang akan aku basahi dengan airnya (menyambungnya)”. (HR. Muslim).

Petunjuk Nabi yang luhur itu telah terdengar oleh kaum muslimin dan muslimat pada awal fajar islam, dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dimana mereka senantiasa berbuat baik kepada kaum kerabatnya baik muslim maupun non muslim. Diantara yang menjadi bukti atas hal itu adalah ap yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam bukunya yang berjudul Al Istii’ab dan Ibn Hajar dalam bukunya Al Ishabah, bahwa seorang budak wanita kepunyaan Ummul Mukminin Shofiyah, pernah mendatangi Amirul Mukminin Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu seraya berkata, ’ wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Shafiyah menyenagi hari sabtu dan bersilaturrahmi kepada orang Yahudi. Maka Umar bin Khathab pun segera mengirim utusan kepada Shafiyah untuk menyakan hal itu, Shafiyah pun menjawab, ”Adapun hari sabtu, aku tidak menyenaginya setelah Allah menggantinya dengan hari Jumat. Sedangkan orang Yahudi, karena saya mempunyai kerabat dari kalangan mereka dan aku hendak menyambung tali kekeluargaan dengan mereka. ”Kemudian dia menemui budaknya dan menyakan keberaniannya menuduh bahwa dia (Shafiyah) menyenangi hari Sabtu. Maka budak itupun menjawab, ”Itu adalah bisikan syetan, dan ahirnya Shafiyah berkata, ”Pergilah, karena engkau telah merdeka..

Umar bin Khathab Radhiyallahu Anhu sendiri tidak keberatan untuk memberikan hadiah kepada saudara seibunya yang diutus Rasulullah menenmuinya, padahal saudaranya itu musyrik. (HR Muslim). Dari hal diatas, wanita muslimah dapat mengerti perasaan kemanusiaan tidak pernah lepas dari hati orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, bahkan rasa kemanusiaan itu mengalir sampai kepada kaum kerabat sebagai sujud bakti dan kebaikan, meskipun mereka dari kalangan non muslim. Ungkapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam yang berbunyi, ” Tetapi kalian mempunyai kerabat yang akan aku basahi dengan airnya (menyambungnya), merupakan puncak sastra Arab, dimana kerabat diserupakan dengan bumi yang disirami dengan penyambung tali kekeluargaan dan kebaikan sehingga dapat membuahkan cinta dan kasih sayang.

Orang muslim sejati senantiasa disayang dan dicintai semua orang , karena mereka melihat akhlak mulia dan sifat-sifat terpuji pada dirinya. Islam juga telah memerintahkan supaya berbakti kepada kedua orang tua, meski keduanya musyrik. Demikian pula islam memerintahkan untuk berbuat kepada kaum kerabat, meski mereka bukan dari kalangan keluarga muslim, dengan bertolak dari rasa kepedulian, kemanusiaan dan rahmat yang dibawa oleh agama ini bagi sekalian umat manusia. ”Dan kami tidak mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’:107) Sumber : Jati diri wanita muslimah, Dr. Muhammad Ali Al Hasyimi, pustaka Al Kautsar