Keimanan terhadap takdir adalah satu dari enam rukun iman. Satu saja dari enam sendi iman ini runtuh, maka tidak sempurnalah keimanan itu. Sehingga memahami takdir secara benar adalah sebuah keniscayaan.
Lalu, bagaimana kita bisa memahami takdir secara benar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Assunnah? Buku ini bisa menjadi salah satu referensi bagi kita.

Buku ini ditulis oleh Syakh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan diberi pengantar oleh salah seorang ulama terkemuka abad ini, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai mufti kerajaan Arab Saudi. Sehingga isinya tidak perlu diragukan dari sisi kesesuaiannya dengan manhaj Ahlussunnah.

Pembahasan dalam buku ini dimulai dari hukum membicarakan permasalahan Qadar, sebab ada sementara pihak yang berpendapat bahwa membicarakan masalah takdir adalah tidak boleh secara mutlak, karena hal itu dapat membangkitkan keraguan dan kebimbangan, dan telah menyesatkan banyak orang.

Menurut Syaikh, pendapat tersebut tidaklah benar secara mutlak dengan beberapa alasan, di antaranya bahwa iman kepada qodar adalah salah satu rukun iman. Iman seorang hamba tidak sempurna kecuali dengannya. Bagaimana salah satu rukun iman akan diketahui jika tidak dibicarakan dan dijelaskan?

Buku ini selanjutnya membahas tentang cakupan Iman kepada Qadar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah yang bersumber dari Al-Quran dan Assunnah serta apa yang diikuti oleh as-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Bagi Ahlussunnah, keimanan terhadap takdir memiliki empat tingkatan. Pertama, Al-Ilmu (ilmu), yaitu beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara rinci dan global sejak zaman dulu dan azali, baik yang berhubungan dengan pekerjaan Dzat-Nya maupun hamba-Nya. Seperti dalam firman-Nya:

“”…(Rabb-ku) Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya seberat dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Saba’:3)

Tingkatan kedua, Al-kitaabah (penulisan), yaitu mengimani bahwa Allah telah mencatat apa yang telah diketahui-Nya dari ketentuan-ketentuan para makhluk hingga hari Kiamat dalam al-Lauhul Mahfuzh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS Al-Hajj: 70)

Tingkatan ketiga, Al-masyii-ah (kehendak), yaitu beriman bahwa semua yang ada di alam tidak ada kecuali atas kehendak Allah, baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya atau perbuatan ciptaan-Nya. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya…” (QS Al-Qashash: 68)

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia semuanya berada di antara dua jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya ke mana saja Ia kehendaki.” (HR Muslim)

Tingkatan keempat, Al-khalq (penciptaan), yaitu beriman bahwa segala makhluk yang ada adalah ciptaan Allah, baik dzatnya, sifatnya maupun gerakannya. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Allah Yang menciptakan segala sesuatu….” (QS Az-Zumar: 62)

firman Allah yang lain:

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang…” (QS Al-An’aam: 1)

Buku ini membahas juga berbagai syubhat dan permasalahan seputar takdir, serta penyimpangan dalam memahami takdir itu sendiri, seperti konsep takdir Qadariyyah, Jabariyyah, Shufiyyah, para filosof, Asy’ariyyah, Syiah, dan orang yang percaya dengan astrologi (ramalan bintang).

Kelebihan dari buku ini adalah pembahasannya yang gamblang dengan menyertakan dalil dari Al-Qur’an, Assunnah, dan nukilan ucapan ulama-ulama salaf yang sudah tidak diragukan lagi kapasitas keilmuan dan kelurusan manhajnya. Maka bagi anda yang masih bingung dengan konsep takdir yang benar menurut Islam, buku inilah jawabannya.

Keterangan Buku:

Judul : Kupas Tuntas Masalah Takdir,
Pengarang : Muhammad bin Ibrahim al-Hamd
Penerjemah : Ahmad Syaikhu, S. Ag.
Edit Isi : Arman bin Amri, Lc.
Muraja’ah : Tim Pustaka Ibnu Katsir
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Tebal : 264 halaman