img Meskipun tidak menyerang organ yang vital, jangan sepelekan penyakit diabetes atau kencing manis. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan penyakit ini tidak semanis namanya. Diabetes dapat memicu munculnya penyakit-penyakit berbahaya lain seperti hipertensi dan jantung koroner.

Secara global, kasus diabetes terus mengalami kenaikan. Contohnya di Eropa saja diperkirakan kasus diabetes akan mengalami peningkatan sebesar 48% pada tahun tahun 2020 nanti. Di Amerika Serikat peningkatannya diperkirakan sebesar 43%. Namun di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, peningkatannya melonjak sebesar 137%.

“Hal ini berbahaya sebab diabetes adalah induk dari berbagai penyakit degeneratif seperti stroke, hipertensi, jantung koroner dan disfungsi ereksi,” kata dr Djoko Maryono DSDP, DSJP, FIHA, FACC, ahli penyakit jantung dalam acara diskusi media di Tempo Scan Tower Jakarta, Senin (30/7/2012).

Diabetes dimulai dari kurangnya insulin dalam tubuh yang berfungsi menyerap gula dari makanan. Akibatnya, kadar gula di dalam darah menumpuk sehingga menarik air. Pada akhirnya, darah menjadi kental dan memicu hipertensi.

Dr Djoko menjelaskan, 68% pasien diabetes pada akhirnya akan memiliki kadar kolesterol tinggi yang memicu penyempitan pembuluh darah. Lebih lanjut lagi, sekitar 54% pasien diabetes kemudian mengalami penyakit jantung koroner.

Serangan jantung juga paling rentan terjadi pada masa pra-diabetes, yaitu sekitar 4 – 5 tahun sebelum munculnya penyakit diabetes. Seseorang dikatakan memasuki tahap pra-diabetes apabila memiliki tingkat gula darah sementara lebih dari 140 mg/dl. Apabila tingkatnya sudah melebihi 200 mg/dl, artinya sudah positif mengidap diabetes.

“Kebanyakan kasus diabetes yang terdiagnosa itu seperti gunung es, hanya bagian luarnya saja yang kelihatan. Di bagian dasarnya ada masalah besar yang menjadi pemicu banyak penyakit, yaitu sindrom kardiometabolik,” kata dr Djoko.

Sindrom kardiometabolik merupakan sekumpulan faktor resiko penyakit kardiovaskular yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit jantung, stroke dan diabetes. Biang keladinya tak lain dan tak bukan adalah gaya hidup.

Sebuah penelitian yang diakukan tahun 1980 – 2000 di Amerika Serikat membuktikan tuduhan ini. Orang-orang Indian yang pada mulanya memiliki kondisi tubuh sehat banyak terserang penyakit degeneratif setelah difasilitasi dengan junk food dan menjalani gaya hidup tak sehat khas Amerika.

“Dalam remtang waktu 20 tahun, kasus penyakit jantung meningkat tiga kali lipat. Orang-orang Indian tersebut mengalami sindrom metabolik dan mengalami perubahan genetik yang diturunkan kepada anak cucunya,” kata dr Djoko.