ilustrasi/timeturk.com

Bulan Ramadan rupanya menjadi waktu berlibur buat turis-turis dari kawasan kaya minyak di Timur Tengah. Spa halal, tawaran berbuka puasa, dan musala di bandar udara adalah salah satu pertanda turisme Ramadan ini.

Sebuah studi yang digelar kantor berita Prancis, AFP, di 47 negara bekerja sama dengan biro perjalanan halal, Crecentrating dan Dinar Standard, biro riset gaya hidup muslim di dunia, membuktikan lonjakan travel itu.

“Rasio pengeluaran turis muslim lebih besar ketimbang rasio turis pada umumnya. Kami menaksir belanja muslim mencapai USD 192 M,” ujar Kepala Eksekutif Crecentrating, Fazal Bahardeen, sebagaimana dikutip dari AFP, Rabu (1/8/2012).

Masih kata Fazal, Indonesia dan Malaysia merupakan tempat tujuan wisata favorit muslim dari Timur Tengah. “Tapi negara-negara non-muslim kini juga serius melirik wisatawan muslim,” tuturnya.

Fazal tak berlebihan. Inggris membuktikan hal itu. Orang-orang Inggris menyebutnya “musim Ramadan”. Sebab, hampir saban tahun selama puasa ini, jutawan maupun miliarder asal Timur Tengan membanjiri London.

Mereka ingin berpuasa sembari menikmati hawa sejuk yang berhembus di Eropa. Bersantai, berpesta, berbelanja, sekaligus mempertontonkan kekayaan mereka. “Musim Ramadan sungguh fenomenal,” tutur Jace Tyrell.

Tyrell yang bekerja di New West End Company, perusahaan jasa penjualan barang mewah di Oxford Street, Bond Street, dan Regent Street sudah mafhum. “Tahun lalu kami meraup Rp 1,8 triliun,” ujarnya. Wow!

Tyrell berharap pada musim Ramadan tahun ini pendapatan mereka melonjak hingga 10 persen. Tak mengherankan bilamana dia kini sibuk merekrut pegawai yang cakap berbahasa Arab dan berpenampilan menarik untuk melayani turis-turis Arab.

Di Asia Tenggara, sejauh ini Malaysia masih menjadi incaran utama turis-turis asal asal Timur Tengah itu. Setidaknya begitu menurut Mohammed Ali Alali, 23 tahun, pegawai sebuah perusahaan minyak di Arab Saudi.

“Tak jauh dari Arab Saudi dan lebih murah ketimbang ongkos perjalanan ke Eropa,” tutur Ali, yang datang berlibur bersama istri, seorang mahasiswi kedoketran.

“Mudah buat saya menemukan masjid dan menemukan makanan halal.”

Kemudahan mencari makanan halal ini menurut hasil jajak pendapat, masih jadi primadona para pelancong dari Timur Tengah saat mereka menentukan tempat tujuan wisata, selain masjid atau musala di bandara dan hotel.

Ahmed, seorang turis asal Saudi, saat ditemui di kawasan Ciawi, Puncak, Bogor, beberapa pekan lalu menuturkan hal senada. “Indonesia negeri muslim, orang-orangnya ramah, dan harga di sini murah,” katanya.

Selain Indonesia dan Malaysia, Thailand serta Australia mengincar turis-turis asal Timur Tengah ini. Negara Bagian Queensland, yang terkenal dengan Gold Coast-nya, sudah mulai menjaring wisatawan lewat situs resmi.

“Kami menyambut baik turis-turis Timur Tengah dan komunitas besar muslim dengan menyediakan pelbagai fasilitas untuk muslim di Gold Coast, Australia, yang kian membaik tiap tahun,” demikian pernyataan di situs itu.

Thailand pun tak mau ketinggalan. Negeri Gajah Putih membuka markas biro pariwisata di Dubai. Mereka menawarkan spa halal dan menggelar pekan makanan Thailand selama Ramadan di Uni Emirat Arab. Maklum saja, hampir 37 persen wisatawan muslim selama 2011 datang dari Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Mereka inilah yang saban tahun menghabiskan duit untuk berwisata dan berbelanja.