img  Bagi beberapa pasangan menikah, cinta bukanlah satu-satunya alasan untuk hidup bersama. Menurut sebuah penelitian, kehadiran si kecillah yang buat mereka ‘rukun’ walau tak ada lagi kecocokan.


Penelitian dan survei dilakukan oleh situs putus cinta dan perceraian Halbee. Situs itu, menemukan bahwa 6 dari 10 pasangan menikah menjadikan anak sebagai alasan mereka untuk hidup bersama. Walau pasangan tersebut berencana bercerai jika sang anak sudah tumbuh dewasa.

Jumlah pasangan yang mengajukan gugutan cerai setelah musim panas lalu meningkat hingga 40 persen. Hal itulah yang melatar belakangi situs Halbee untuk mengadakan survei kepada 2000 pasangan menikah.

“Yang membuat terkejut adalah banyak orang tua yang merasa ‘terpaksa’ untuk tetap bersama dengan mengabaikan kebahagiaan mereka, atau tidak mempertimbangkan efek pada anak-anak apabila ada aura ‘permusuhan’ di rumah,” ujar Chad Schofield, juru bicara situs Halbee.

“Hal itu bisa membuat anak merasa bersalah karena orangtuanya ‘melupakan’ kebahagian sendiri demi dirinya. Anak-anak sangat membutuhkan role model, tapi mereka juga peka terhadap suasana tegang yang meningkat di dalam rumah tangga.”

Penelitian Halbee itu juga menemukan bahwa satu dari tiga pasangan yang merasa pernikahannya bermasalah telah mendiskusikan mengenai akhir dari kehidupan rumah tangganya. Sedangkan, satu dari empat pasangan, telah memutuskan untuk bercerai tetapi keputusannya tersebut belum disampaikan kepada suami atau istrinya.

Hasil lainya, enam dari 10 pasangan tetap hidup bersama karena sang anak. Kebanyakan dari mereka menunggu hingga anaknya berusia 18 tahun atau paling tidak, sudah memasuki universitas. Setelah itu, pasangan tersebut akan memutuskan untuk bercerai.

“Kami tidak terlalu terkejut bahwa perceraian pada bulan September dan Oktober meningkat cukup tajam setelah mereka ‘berpura-pura’ sebagai keluarga bahagia selama liburan musim panas atau perpecahan rumah tangga diakibatkan karena terlalu lama menghabiskan waktu bersama saat liburan,” jelas Schofield.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka yang bercerai, 75 persen mengatakan telah menyesal karena tetap bersama demi anak dan hampir 90 persen sekarang mengakui akan melakukan perceraian lebih cepat apabila mendapat lebih banyak dukungan,” tutup Schofield.