Saat melakukan briefing internal di Excellent pekan lalu, saya bertanya mengenai beberapa hal berikut :

“Apakah kamu bekerja sebagai staff IT?”
“Apakah kamu punya akses internet dan online setiap waktu?”
“Apakah kamu berlangganan majalah IT atau rutin membeli buku tentang IT atau membaca berita seputar IT?”
“Apakah kamu memiliki bargaining power/kemampuan IT yang kompetitif terhadap orang lain dengan level pekerjaan atau pendidikan yang sama?”
“Apakah kamu punya sertifikasi IT?”
“Apakah kamu punya bayangan hendak mencapai posisi apa dengan kemampuan IT yang dimiliki?”

Jika jawaban dari pertanyaan nomor 1 adalah “Ya” sedangkan pertanyaan lain jawabannya “Tidak”, maka berarti masuk tanda-tanda staff IT salah fokus.

Ada beberapa staff IT yang saya temui dengan bangga bilang bahwa ia hobby musik, hobby elektronik, hobby otomotif, gadget dan lain-lain sehingga mau membeli perangkat atau alat-alat yang cukup mahal, namun cenderung kurang mau meluangkan waktu dan biaya untuk berinvestasi untuk pekerjaan yang ia jalani. Ia punya motor gede yang cukup mahal, namun tidak punya laptop. Kalaupun ada, itu invetaris kantor dengan spesifikasi yang pas-pasan.

Banyak staff IT yang tidak punya akses internet, hanya online saat di kantor menggunakan akses internet kantor. Penghematan? Mungkin, namun menurut saya ini penghematan salah tempat dan salah fokus. Kalau dulu saya bisa memahami jika staff IT melakukan akses internet hanya dari kantor mengingat biaya langganan masih relatif mahal dan pilihan akses internet masih terbatas. Lha sekarang kan banyak pilihan, entah itu dalam bentuk usb modem, tethering hotspot dari smartphone/gadget/tablet atau berlangganan paket tertentu dengan biaya yang relatif terjangkau. Entah dalam bentuk 4G, 3G, GSM, CDMA dan lain-lain.

Biaya akses internet sebulan ada yang kurang dari 50 ribu rupiah, sebulan. Kalau butuh download besar bisa ke warnet dengan biaya Rp. 3.000,- per jam. Uang 100 ribu sudah bisa digunakan untuk akses internet selama sebulan. Masih juga mau berargumen sebagai staff IT tidak bisa online setiap saat karena biayanya mahal?

Kalau mau lebih efisien bisa beli smartphone. Bisa dijadikan modem sekaligus untuk membaca ebook, komunikasi suara, video, remote manajemen server dan lain-lain. Smartphone mahal? Mungkin iya, tapi buat staff IT smartphone jauh lebih berdayaguna daripada berhemat dengan HP jadul dan kelimpungan karena ada banyak feature yang tidak ada.

Investasi  menjadi mahal jika mubazir dan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Meski perlu menabung, investasi untuk smartphone merupakan investasi yang bagus jika dengannya kita bisa bekerja lebih efektif dan efisien. Bisa bekerja kapan saja dan dimana saja. Bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mendayagunakan kemampuan yag ada.

Jadi staff IT tidak sayang mengeluarkan biaya untuk modifikasi kendaraan. Tidak sayang untuk membeli gitar yang bagus. Memang tidak salah karena itu hak kita. Uang juga uang kita. Mau dijadikan apa terserah kita. Benar, namun juga perlu diimbangi dengan investasi untuk kemampuan pekerjaan kita. Jangan kita royal untuk hobby non pekerjaan namun kita pelit bin medit jika untuk urusan peningkatan kemampuan.

Kalau jadi staff IT tapi kerap gagap update terbaru dibidang IT ya berarti ada yang salah dalam urutan prioritas. Jika jadi staff IT namun tidak berani head-to-head kapabilitas berarti ada yang salah disisi mindset dan perencanaan masa depan.

Jadi staff IT tidak bisa statis, harus dinamis. Harus mau mengikuti perkembangan jaman. Inklusif, terbuka pada wacana dan perkembangan baru. Jangan ekslusif, jangan introvert. Jangan menutup diri. Cari tahu perkembangan IT. Terus update pengetahuan. Menabung untuk mengambil sertifikasi IT. Punya target ada berapa sertifikasi IT yang hendak diambil.

Belajar berpakaian dengan rapi. Belajar memperbaiki penampilan (ini ngomong ke diri sendiri, hehehe…). Belajar cara berbicara dengan baik. Terus belajar, dari ayunan hingga ke liang kelinci  . Kejar kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kita hendaknya punya tanggung jawab pada pekerjaan yang kita lakukan. Tanggung jawab pada kehidupan yang kita jalani. Fokus pada kemampuan pekerjaan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab itu. Jangan mengeluh pada keadaan dan kekurangan hidup. Jangan khawatir meski kita masih pemula/newbie. Jika bukan kita yang bertanggung jawab pada hidup kita, lantas siapa yang perlu diminta untuk bertanggung jawab?

Hidup kita milik kita, susah senang, kita juga yang menjalaninya.

sumber : http://vavai.com/2014/02/26/staff-it-salah-fokus/